Senin, 14 Juni 2010

Jumat, 04 Juni 2010

perbandingan agama hindu

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Setiap agama memiliki sejarahnya sendiri, dan Agama Hindu telah mengalami perkembangan yang amat panjang dan lama sejak beribu-ribu tahun yang sebelum masehi hingga sekarang. Maka dengan adanya perkembangan tersebut peulis akan menguraikan tentang Agama Hindu yang meliputi, asal-usul Agama Hindu, konsep Ketuhanan dalam Veda, pokok-pokok keimanan Agama Hindu, dar ritual Agama Hindu. Degan demikian, dengan adanya beberapa pembahasan tersebut kita dapat memahami tentang Agama Hindu.
B. Rumusan masalah
1. Bagaimana asal-usul Agama Hindu?
2. Bagaimana konsep ketuhanan dalam Weda?
3. Apa pokok-pokok keimanan Agama Hindu?
4. Apa ritual Agama Hindu?


BAB II
PAMBAHASAN
A. Asal-usul Agama Hindu
“Sanata Dharma” adalah nama asli Hindu. Sanata Dharma adalah nama lain untuk Agama Hindu, sebuah agama yang sudah ada sebelum agama-agama lain ada. Nyatanya, ia tidak mulai pada suatu zaman tertentu. Ia ada tanpa permulaan dan tanpa akhir (anadi-ananta). Nama Hindu yang sekarang lazim dikenal dan telah dipergunakan secara umum diseluruh dunia, merupakan nama asing karena nama tu diberikan oleh seseorang yang bukan Agama Hindu. Nama itu diberikan pada kelompok masyarakat yang memiliki agama dan tradisi “Dharma”. Ajaran Dharma ini dikenal dengan nama Indus Culture atau kebudayaan lembah sungai Sindus (Indus). Di dalam pegucapan, perubahan lafal “S” ke “H” mempengaruhi ejaan “Shindu” menjadi “Hindu” dan dipakai hingga sekarang. Kata sangsekerta yang terdekat dengan kata arti kata agama adalah Dharma. Dengan demikian, “Hindu Dharma” sama artinya dengan “Agama Hindu ”, yaitu agama yang kekal dan abadi (Sanata Dharma).
Perkembangan agama Hindu di India berlangsung dalam kurun waktu yang amat panjang yaitu berabad-abad sehingga sekarang. Sejarah yang amat panjang itu menurut pandapat Govinda das dalam Hinduism (Modras, 1924, P.25), dapat dibagi dalam 3 bagian besar yaitu :
1. Zaman Weda Kuno
Zaman ini dimulai dari datangnya bangsa Arya kurang lebih 2500 tahun sebelum masehi ke India, dengan menempati lembah Sungai Shindu, yang juga dikenal dengan nama Punjab (daerah lima aliran sungai). Zaman weda kuno merupakan zaman penulisan wahyu suci Weda yang pertama yang Rig Weda. Kehidupan beragama pada zaman ini lebih banyak menekankan pada pembacaan perafalan ayat-ayat Weda secara oral, yaitu dengan menyanyikan dan mendengarkan secara berkelompok.

2. Zaman Brahmana
Zaman ini ditandai dengan munculnya kitab Brahmana sebagai bagian dari Weda Sruti yang disebut Karma Kanda. Kitab ini memuat himpunan doa serta penjelasan uacara korban dan kewajiban keagamaan. Kehidupan beragama zaman ini ditandai dengan pemusatan keaktifan pada batin atau rohani dalam berbagai upacara korban.
Pada zaman Brahmana ini ciri-ciri perkembangan kehidupan bergamaa manusia dibedakan menjadi empat asrama biasanya disebut Catur Asrama yaitu :
a. Brahmacari, yaitu masa belajar mencari ilmu pengetahuan untuk bekal menjalani kehidupan selanjutnya.
b. Grhastha, yaitu tahap hidup berumah tangga dan membentuk keluarga.
c. Wanaprastha, yaitu hidup menjadi penghuni hutan atau pertapa.
d. Sanyasin, yaitu kewajiban hidup ,meninggalkan segala sesuatu yang berbau keduniawian.
3. Zaman Upanisad
Kehidupan agama Hindu pada zaman ini bersumber pada ajaran-ajaran kitab Upanisad. Tuntutan-tuntutan keagamaan pada zaman Upanisad diarahkan untuk meninggalkan ikatan keduniawian dan kembali ke asal sebagai tujuan akhir mencapai masa untuk menyatu dengan Brahman.
B. Konsep Ketuhanan dalam Veda
Kitab Weda merupakan sumber pokok ajaran agama Hindu, sebab dari Wedalah mengalir ajaran-ajaran yang merupakan kebenaran agama Hindu.
Kitab-kitab Weda mengandung berbagai ajaran yang memberikan keselamatan di dunia dan di akhirat. Weda menuntun tindakan manusia sejak lahir sampai paad hembusan nafas yang terakhir. Ajaran Weda tidak terbatas hanya sebagai tuntutan hidup individual, tetapi jga dalam hidup masyarakat, berbangsa dan bernegara. Untuk memahami ajaran Weda, tidak laion cukup dengan hanya membaca teksnya saja tetapi harus memahami ajaran hindu secara utuh.
Ajaran ketuhanan dalam agama hindu disebut Brahma Widya, yang membahas tentang Tuhan yang Maha Esa. Dan ciptaan-Nya termasuk manusia dan alam semesta. Sumber ajaran Brahma Widya ini adalah Kitab Suci Weda.
Untuk memudahkan umat sujud bhakti kepada Tuhan, maka Tuhan disembah melalui berbagai sarana bhakti atau sarana keagamaan, seperti membuat pura (Tempat pemujaan) upacara (sajen) dan berbagai upacara persembahan.
C. Pokok-pokok Keimanan Agama Hindu
Jiwa dari agama adalah kepercayaan. Agama selalu mencangkup masalah percaya dan kepercayaan. Ini adalah keimanan. Dalam agama Hindu, iman disebut dengan Sradda. Pokok-pokok keimanan dalam agama Hindu dapat dibagi dalam 5 bagian yang disebut Panca Sraddha, yang terdiri dari
1. Percaya terhadap adanya Brahman (Sang Hyang Widhi)
Sang Hyang Widhi ialah Ia yang kuasa atas segala yang ada di alam ini. Tidak ada yang luput dari Kekuasaan-kuasaan-Nya.
2. Percaya terhadap Atman
Bila Atman meninggalkan badan, maka makhluk itu akan mati. Atman menghidupi badan disebut Jiwatman. Jiwatman dapat dipengaruhi oleh karma, hasil perbuatan di dunia ini. Menurut ajaran agama Hindu, jiwatman seseorang yang meninggal dunia dapat mencapai surga atau jatuh ke neraka.
3. Percaya terhadap Hukum Karmaphala
Buah dari perbuatan itu disebut phala. Buah perbuatan itu tidak selalu langsung dapat dirasakan atau dinkmati. Tetapi phala itu kadang-kadang baru diterima hasilya (buahnya) setelah kehidupan yang akan datang.
4. Percaya terhadap adanya Purnabawa
Jiwatman atau roh tidak selamanya berada di syurga ataupun neraka. Ia akan lahir kembali ke dunia. Kelahiran kembali ini disebut Punarbawa atau Samsara, lingkaran kelahiran. Bagaimana kelahirannya kembali akan tergantung dari KarmaWasona (bekas-bekas perbuatan) terdahulu. Kalau ia membawa krma yang baik lahirlah ia menjadi orang yang bahagia, berbadan sehat dan berhasil cita-citanya. Sebaliknya, bila ialah membawa karma yang buruk (kurang baik) ia akan lahir sebagai orang yang menderita. Kelahiran kembali ini adalah kesempatan untuk memperbaiki diri dari segala dosa yang telah diperbuat pada kehidupan yang terdahulu.
5. Percaya terhadap adanya Moksa
bila seseorang berhasil lepas dari ikatan dunia ia akan mencapai moksa. Moksa artinya kelepasan. Inilah tujuan akhir pemeluk agama Hindu. Orang yang telah mencapai moksa tidak lahir lagi kedunia. Karena tidak ada apapun yang mengikatnya. Ia telah bersatu dengan Paratman, Atman yang tertinggi atau Sang Hyang Widhi.
D. Ritual Agama Hindu
Agama Hindu memiliki dua ritual yang lazim dikalangan orang Hindu masa kini, yakni yang disebut sebagai ritual keagamaan Vedis dan Agamis.
Ritual Vedis pada pokoknya meliputi korban-korban kepada para dewa. Suatu upacara korban berupa melakukan persembahan, seperti mentega cair, butir-butir padi dan dalam kesempatan tertentu juga binatang kepada suatu Dewata. Ritual ini bertujuan untuk menetapkan suatu hubungan antara dunia ilahi dengan dunia manusia, bahkan memberi wawasan tentang hakikat ilahi.
Ritual Agamis memusatkan prhatian pada penyembahan pjaan-pujaan, pelaksanaan puasa serta pesta-pesta yang termasuk bagian agama Hindu yang merakyat. Bentuk khas dari praktek ritual keagamaan Hindu adalah cara penyembahan yang disebut “Puja”. Dalam suatu rangakaian ritual, modelnya sebagian didasarkan pada kitab Veda, patung-patung diminyaki, diberi pakaian, dihiasi dan diberi wangi-wangian. Makanan dan minuman dipersembahkan kepadanya, bunga-bunga dipersembahkan dan cahaya dicurahkan disitu. Sepanjang upacara ini, kehadiran ilahi dimohon dan dikenang dengan kesalehan batin.


BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Nama asli Hindu yaitu “Sanatama Dharma” agama Hindu adalah sebuah agama yang sudah ada sebelum agama-agama lain ada. Tetapi tidak ada bukti yang pasti kapan agama Hindu mulai ada nyatanya ia tidak mulai pada suatu zaman tertentu. perkemabangannya Hindu di India menurut pendapat Govinda Das dapat dibagi dalam tiga (3) bagian besar yaitu Zaman weda kuno, zaman Brahmana, dan zaman Upanisad.
Kitab Veda merupakan sumber pokok ajaran agama Hindu, sebab dari Wedalah mengalir ajaran yang merupakan kebenaran agama Hindu dan menjelaskan tentang ketuhanan yang Maha Esa serta citaan-Nya.
Pokok-pokok keimanan agama Hindu, yaitu percaya terhadap adanya Brahman, percaya terhadap Atman, peracaya terhadap hukum Karmaphala, percaya adanya punarbawa, percaya terhadap adanya moksa.
Ritual agama Hindu memiliki dua ritual yang lazim di kalangan orang Hindu masa kini yaitu ritual keagamaan Vedis dan Agamis.

DAFTAR PUSTAKA

Dhavamony, Mariasusai, Fenomelogi AgamaKanisius, , Yogyakarta, 1995.
Djam’annuri, Agama Kita, Kurnia Kalam Semesta, Yogyakarta, 2002.

PERKEMBANGAN ULUMUL QUR’AN

BAB I
PEMBUKAAN

A. Latar Belakang Masalah
Sebagai ilmu yang terdiri dari berbagai cabang dan macamnya, Ulumul Qur’an tidak lahir sekaligus, Ulumul Qur’an menjelma menjadi suatu disiplin ilmu melalui proses pertumbuhan dan perkembangan sesuai dengan kebutuhan dan kesempatan untuk membenahi Al Qur’an dari segi keberadaannya dan segi pemahamannya

B. Rumusan Masalah
1. Apa definisi Ulumul Qur’an?
2. Bagaimana perkembangan Ulumul Qur’an dari masa ke masa ?

BAB II
A. Pengertian Ulumul Qur’an
Kata Ulumul Qur’an berasal dari bahasa Arab yang terdiri dari dua kata, yaitu Ulum dan Al Qur’an. Kata Ulum adalah bentuk jamak dari kata “ilm” yang berarti ilmu-ilmu. Pra ahli filsafat mendefinisikan kata ilmu sebagai suatu gambaran tentang sesuatu yang terdapat dalam akal. Sedangkan menurut imam Al Ghazali secara umum arti ilmu dalam istilah syara’ adalah ma’rifat terhadap Allah terhadap tanda-tanda kekuasan-Nya terhadap perbuatan-perbuata-Nya. Pada hamba-hamba-Nya dan makhluk-Nya. Jadi ilmu adalah mengetahui masalah-masalah yang telah dirumuskan dalam satu disiplin pengetahuan yang terdapat dalam akal pikiran, sehingga mengharuskan pemiliknya mampu membedakan sesuatu dari yang lain setelah jelas baginya sesuatu tersebut. Sedangkan Al Qur’an menurut ulama Syekh Al As Shabuni adalah kalam Allah yang diturunkan kepada Nabi dan Rosul penghabisan dengan perantara malaikat Jibril, tertulis dalam mushaf yang dinukilkan kepada kita secara mutawatir, membacanya merupakan ibadah yang dimulai dari Surah Al Fatihah dan diakhiri dengan surah An Nas. Setelah membahas kata ulum dan Al Qur’an yang terdapat dalam kalimat Ulumul Qur’an yang tersusun secara idhafi. Menurut Zarqani Ulumul Qur’an adalah bahasan-bahasan yang bertalian dengan Al Qur’an mulai dari segi turunnya, tata tertib atau urutannya, pengumpulannya, penulisannya, bacaannya, tafsirnya, penolakannya mengenai tantangan-tantangan lawannya, nasikh mansukhnya menolak keragu-raguan tentang kebenarannya dan seumpamanya.

B. Perkembangan Ulumul Qur’an
1. Masa Rosulullah dan Sahabat
Nabi Muhammad SAW dan para sahabat sangat mengetahui makna-makna Al Qur’an dan ilmu-ilmunya, sebagaimana pengetahuan para ulama sesudahnya. Bahkan makna dan ilmu-ilmu Al Qur’an tersebut pada masa Rosulullah dan sahabatnya itu belum tertulis atau dibukukan dan belum disusun dalam satu kitab. Sebab mereka tidak merasa perlu untuk menulis dan membukakan makna dari ilmu-ilmu Al Qur’an tersebut dalam suatu kitab
Hal itu disebabkan karena Rosulullah yang menerima wahyu dari sisi Allah juga mendapatkan rahmat-Nya yang merupakan jaminan dari Allah bahwa kalian pasti bisa mengumpulkan wahyu itu ke dalam dada beliau, dan Allah melancarkan lisan beliau ketika membacanya serta pandai untuk menjelaskan isi maksudnya. Allah SWT berfirman :
Artinya : janganlah kamu gerakkan lidahmu untuk (membaca) Al Quran karena hendak cepat-cepat (menguasai)nya. Sesungguhnya atas tanggungan kamilah mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya. apabila Kami telah selesai membacakannya Maka ikutilah bacaannya itu. Kemudian, Sesungguhnya atas tanggungan kamilah penjelasannya.(QS. Al Qiyamah 16-19)

Setiap Rosulullah selesai menerima wahyu ayat Al Qur’an, beliau menyampaikan wahyu itu kepada para sahabatnya, sehingga mereka dapat membacanya dengan baik, menghafal lafal-lafalnya dan mampu memahami arti dan makna serta rahasia-rahasianya. Rosulullah SAW menjelaskan tafsiran-tafsiran ayat Al Qur’an kepada mereka dengan sabda, perbuatan dan persetujuan beliau serta dengan akhlak-akhlak dan sifat beliau.
Ilmu-ilmu Al Qur’an di masa Rosul dan para sahabat di sampaikan dari mulut ke mulut karena para sahabat terdiri dari orang-orang arab murni yang mempunyai beberapa keistimewaan antara lain :
a. Mempunyai daya hafalan yang kuat
b. Mempunyai otak yang cerdas
c. Mempunyai daya tangkap yang tajam
d. Mempunyai kemampuan bahasa yang luas terhadap segala macam bentuk ungkapan baik prosa, puisi maupun sajak-sajak.
Ketika pada masa pemerintahan Utsman, mulailah bangsa rab bergaul rapat dengan bangsa ajar. Ustman menyuruh para sahabat dan para umat untuk berpegang teguh kepada mushaf Al Imam dan supaya dari mushaf itulah di salin mushaf-mushaf yang dikirim ke kota-kota besar. Tindakan Ustman ini merupakan awal berkembangnya ilmu yang kemudian dinamakan Ilmu Rasmil Al Qur’an atau Rasmil Ustman, kemudian datanglah masa pemerintahan khalifah Ali Bin Abi Thalib.
Beliau memperhatikan orang-orang asing yang suka menodai kemurnian bahasa arab, beliau mengkhawatirkan terjadinya kerusakan bahasa arab itu. Karena itu, beliau memerintahkan Abdul Aswad Ad Duali untuk membuat kaidah-kaidah guna memelihara kemurnian bahasa arab sebagai bahasa Al Qur’an dari permainan dan kerusakan orang-orang jahil. Dengan demikian, khalifah telah meletakkan dasar pertama terhadap ilmu, yang sekarang terkenal dengan nama Ilmu Nahwu atau Ilu I’robil Qur’an.
Setelah berakhirnya zaman Khalifah yang Empat, timbul zaman Bani Umayyah. Kegiatan para sahabat dan tabi'in terkenal dengan usaha-usaha mereka yang tertumpu pada penyebaran ilmu-ilmu Al-Qur'an melalui jalan periwayatan dan pengajaran, secara lisan bukan melalui tulisan atau catatan. Kegiatan-kegiat¬an ini dipandang sebagai persiapan bagi masa pembukuannya. Orang-orang yang paling berjasa dalam usaha periwayatan ini adalah Khalifah yang Empat, Ibn Abbas, Ibn Masud, Zaid Ibn Tsabit, Abu Musa al-Asy'an, Abdullah Ibn al-Zubair dari kalang¬an sahabat. Sedangkan dari kalangan tabi'in ialah Mujahid, 'Atha, 'Ikrimah, Qatadah, Al-Hasan al-Bashri, Said Ibn Jubair, dan Zaid Ibn As!am di Madinah. Dari Aslam, ilmu ini diterima oleh putra¬nya Abd al-Rahman, Malik Ibn Anas dari generasi tabi'i al-tabi'in. Mereka ini semuanya dianggap sebagai peletak batu pertama bagi apa yang disebut ilmu tafsir, ilmu asbab al-nuzul, ilmu nasikh dan mansukh, ilmu gharib al-Quran dan lainnya.
(Kemudian, Ulumul Qur'an memasuki masa pembukuan¬nya pada abad ke-2 H) Para ulama memberikan prioritas perhatian mereka kepada-ilmu tafsir karena fungsinya sebagai Umm al-Ulum al-Qurani’ah (Induk Ilmu-ilmu Al-Qur'an). Para penulis pertama dalam tafsir adalah Syu’bah Ibn al-Hajjaj, Sufyan Ibn 'Uyaynah dan Wali Ibn Al Jarrah. Kitab-kitab, tafsir mereka menghimpun pendapat-pendapat sahabat dan tabi'in.
Pada abad ke-3 menyusul tokoh tafsir Ibn Jarir al-Thabari. Al-Thabari adalah mufassir pertama membentangkan bagi berbagai pendapat dan mentarjih sebagiannya atas lainnya. Ia juga mengemukakan I’rab dan istinbath (penggalian hukum dari Al-Qur'an). Di abad ke-3 ini juga lahir ilmu asbab al-nuzul, ilmu nasikh dan mansukh, ilmu tentang ayat-ayat Makkiah dan Madaniah. Guru Imam al-Bukhari, Ali Ibn al-Madaniyah. Guru Imam Al Bukhari, Ali Ibn Al Madini mengarang asbab al-nuzul; Abu 'Ubaid al-Qasim Ibn Salam mengarang tentang nasikh dan mansukh, qiraat dan
keutamaan-keutamaan Al-Qur'an; Muhammad Ibn Ayyub al ¬Dharis tentang ayat-ayat yang turun di Mekkah dan Madinah; Muhammad Ibn Khalaf Ibn al-Mirzaban .(w. 309 II.) mengarang kitab AI-Hawi fi-'Ulum al-Qur’an.
Di abad ke-4 lahir ilmu gharib al-Quran dan beberapa kitab 'Ulumul Qur'an. Di antara tokoh Ulumul Qur'an di masa ini ialah Abu Bakar Muhammad Ibn al-Qasim al-Anbari dengan kitabnya 'Ajaib 'Ulum al-Qur’an. Di dalam kitab ini Al ¬Anbari berbicara tentang keutamaan-keutamaan Al-Quran, turunnya atas tujuh huruf, penulisan mushhaf-mushhaf, jumlah surah, ayat, dan kata-kata Al-Qur'an. Abu al-Hasan-al-Asy'ari mengarang Al-Mukhtazan fi Ulum al-Quran; Abu Bakar al-Sijistani mengarang Gharib al-Qur’an; Abu Muhammad al-Qashshab Muhammad Ibn Ali al-Karkhi mengarang Nukat al-Qur’an al-Dallah ala al-Bayan fi Anwa' al-'Ulum wa al-Ahkam al-Munbiah 'an lkhtilaf al-Ana-m; dan Muhammad Ibn Ali al-Adfawi mengarang AI-Istighna' fi Ulum al-Qur’an.
Di abad ke-5 muncul pula beberapa tokoh dalam ilmu qiraat. Di antaranya ialah Ali Ibn Ibrahim Ibn Said al-Huffi mengarang Al-Burhan fi Ul-m al-Quran dan I’rob al ¬Qur’an . Abu Amr al-Dani menulis kitab Al-Taisir fi al ¬Qiraat al-Sab'i dan Al-Muhkam fi al-Nuqath. Dalam abad ini juga lahir ilmu amtsa1 al-Quran yang antara lain dikarang oleh Al ¬Mawardi.
Pada abad ke-6, di samping banyak ulama yang melanjutkan pengembangan ilmu-ilmu Al-Qur'an yang telah ada, lahir pula ilmu mubhamat al-Quran. Abu al-Qasim Abd al-Rahman al-Suhaili mengarang Mubhamat al-Quran. Ilmu ini menerangkan lafal-lafal Al-Qur'an yang maksudnya apa dan siapa tidak jelas. Ibn al-Jauzi menulis kitab Funun al-Afnan fi 'Ajaib al-Quran dan kitab Al-Mujtaba fi 'U1um Tata’allaq bi al ¬Quran.
Pada abad ke-7 Ibn Abd al-Salam yang terkenal dengan sebutan Al-'Izz mengarang kitab Majaz al-Quran. 'Alam al-Din al-Sakhawi mengarang tentang qiraat. la menulis kitab Hidayah al-Murtab fi al-Mutasydbih yang terke¬nal dengan nama Al-Sakhawiah. Abu Syamah Abd al-Rahman Ibn Ismail al-Maqdisi menulis kitab Al-Mursyid al-Wajiz fi ma Yata ‘allaq bi al-Quran al-'Aziz.
Pada abad ke-8 muncul beberapa ulama yang menyusun ilmu-ilmu baru. tentang Al-Qur'an. Sementara itu, penulisan kitab¬-kitab tentang ilmu-ilmu yang sebelumnya telah lahir terus ber¬langsung. Ibn Abi al-Ishba' menulis tentang badai Al-Quran. Ilmu ini membahas macam-macam keindahan bahasa dalam Al Qur’an. Ibn al-Qayyim. Ew. 752 H-.) menulis tentang aqsam dl¬Qurdn . 11mu ini membahas tentang sumpah-sumpah al-Quran. Najmuddin al-Thufi menulis tentang hujaj al-Quran. Ilmu ini membahas tentang bukti-bukti yang dipergunakan Al Qur'an dalam menetapkan suatu hukum. Abu Al Hasan al-Mawardi menyusun ilmu amtsal al-Quran. Ilmu ini membahas tentang perumpamaan-perumpamaan yang ada dalam Al-Qur'an. Kemudian Badruddin Al Zarkasyi menyusun kitabnya Al Burhan fi Ulum al-Quran.
Pada abad ke-9, muncul beberapa ulama melanjutkan perkembangan ilmu-ilmu Al-Qur’an. Jalaluddin Al Bulqini Menyusun kitabnya Mawaqi Al Ulum Min mawaqi Al Nujum. Menurut al-Suyuthi, Al-Buqini dipandang sebagai ulama yang mempelopori penyusunan Ulumul Qur'an yang lengkap. Sebab, dalam kitabnya tercakup 50 macam ilmu Al-Qur’an. Muhammad Ibn Sulaiman al-Kafiaji mengarang kitab Al-Tafsir fi Qawaid Al tafsir. Di dalamnya juga diterangkan tentang makna tafsir, takwil, Al-Qur'an, surah dan ayat. Didalamnya juga diterangkan tentang syarat-syarat menafsirkan ayat-ayat Al-Qur’an. Jalaluddin al-Suyuthi menulis kitab Al tahbir fi Ulum Al-Tafsir. Penulisan kitab ini selesai pada tahun 873 H. Kitab ini memuat 102 macam ilmu-ilmu Al-Qur'an. Karena itu, menurut sebagian ulama, kitab ini dipandang sebagai kitab Ulumul Qur’an yang paling lengkap. Namun, Al Suyuthi belum terasa puas dengan karya yang monumental ini sehingga ia menyusun lagi kitab Al-Itqan fi 'Ulum al-Quran. Didalamnya dibahas 80 macam ilmu-ilmu Al-Quran secara padat dan sistematis. Menurut Al Zarqani kitab ini merupakan kitab pegangan bagi para peneliti dan penulis dalam ilmu ini. Setelah wafatnya Imam Al-Suyuthi pada tahan 991 H seolah-olah perkembangan karang-mengarang dalam Ulumul Qur'an telah mencapai puncaknya sehingga tidak terlihat munculnya penulis yang memiliki kemampuan seperti kemampuannya. Keadaan seperti ini dapat terjadi sebagai akibat meluasnya sikap taklid, yang dalam sejarah perkembangan ilmu¬-ilmu agama umumnya mulai berlangsung setelah masa al-Suyuthi.
Kondisi yang demikian berlangsung sejak wafatnya Imam Al Suyuthi hingga akhir abad ke-13 H.
Sejak penghujung abad ke-13 H. sampai saat ini perhatian para, ulama terhadap penyusunan kitab-kitab Ulumul Quran bangkit kembali. Kebangkitan kembali perhatian terhadap Ulumul Qur'an ini bersamaan dengan masa kebangkitan modem dalam perkembangan ilmu-ilmu agama lainnya. Di antara ulama yang menulis tentang Ulumul Qur'an di abad ini ialah Syeikh Thahir al-Jazairi dengan kitabnya Al-Tibyan 1i Ba'dh al Mabahits al-Muta'alliqah bi Al-Quran. Muhammad Jamaluddin al Qasimi menulis kitab Mahasin al-Takwil. Jihad pertama dari kitab in dikasuskan bagi pembahasan Ulumul Qur’an. Muhammad abd Al A’zim al Zarqani menyusun Manahil al-Irfan fi 'Ulum al Qur’an. Muhammad Ali Salamah menulis Manhaj al-Furqan fi 'Ulum al-Quran. Syeikh Thanthawi Jauhari mengarang Al Jawahir Fi Tafsir al-Quran al-Karim. Mushthafa Shadiq al-Rafi'i me¬nulis I’jaz al-Quran. Sayyid Quthub menulis Al-Thashwir alfanni fi Al-Quran dan Fi Zilal al-Quran. Malik Ibn Nabi menulis Al-Zawahir al-Qur'aniah. Kitab ini memuat pembahasan yang baik sekali dalam banyak persoalan Ulumul Qur'an Muhammad Rasyid juga tidak ketinggalan memasukkan pemba¬hasan-pembahasan Ulumul Qur'an dalam tafsimya Tafsir al¬ Quran al-Karim yang terkenal dengan sebutan Tafsir al-Manar. Syekh Abd al-Aziz al-Khuli menulis kitabnNya berjudul Al-Quran al-Karim: Washfuh, Atsaruh, Hidayatuh, wai’jazuh. Muhammad al-Ghazali menulis kitab, Nazarat ft al-Quran, Muhammad Abdullah Daraz menulis Al-Nabau al-Azim. Di samping itu masih banyak lagi buku-buku yang menyangkut Ulumul Qur'an, baik yang berbahasa Arab, seperti kitab Mabahits fi 'Ulum al¬ Quran karya Shubhi al-Shalih dan 'Ulum al-Quran al-Karim karya Abd al-Mun'im al-Namir, maupun dalam Bahasa Indonesia, seperti Ilmu-ilmu Al-Qur'an karya T.M. Hasbi Ash-Shiddieqy, Pengantar Ilmu Tafsir karya Rif’at Syauki Nawawi dan Ali Hasan, dan yang baru terbit buku berjudul Membumikan Al-Qur'an karya ahli tafsir Indonesia M. Quraisy Shihab. Bagian pertama dari buku terakhir ini banyak berbicara tentang Ilmu Al Qur’an atau lebih tepatnya Ilmu Tafsir yang merupakan bagian dari bahasan Ulumul Qur’an
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Ulumul Qur’an adalah suatu ilmu yang mempunyai ruang lingkup pembahasan yang luas, meliputi semua ilmu yang ada kaitannya dengan Al Qur’an, baik berupa ilmu agama misalnya Ilmu Tafsir.
Perkembangan Ulumul Qur’an melalui masa-masa yang panjang, dari masa Rosulullah hingga sampai saat sekarang yang banyak melahirkan kitab-kitab Ulumul Qur’an, di antaranya Al Tibyan Liba’dh Al Mabahits Al Muta’aliqah Bi Al Qur’an karangan Syeikh Thahir Al Jazairi, Kitab Al Zawahir Al Qur’aniyah karangan Malik Ibn Nabi dan lain-lain.

DAFTAR PUSTAKA

Abdul Djalal, Ulumul Qur’an. Surabaya : Dunia Ilmu, 2008

Fahd Bin Abdurrahman Ar Rumi. Ulumul Qur’an. Yogyakarta : Titian Ilahi Press, 1997

H. Ramli Abdul Wahib. Ulumul Qur’an. Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada. 1993

M. Kahar Masyhur. Pokok-Pokok Ulumul Qur’an. Jakarta : PT. Rineka Cipta, 1992.

Teungku M Hasbi Ash Shiddieqy. Ilmu-Ilmu Al Qur’an, Semarang : PT. Pustaka Rizki Putra. 2002.

Selasa, 18 Mei 2010

kumpulan makalah ku

PENTINGNYA ILMU PENGETAHUAN

A. Sanad dan Matan Hadist

حدّ ثنا علىّ بن ميمونٍ الرَّقّىّ حدّ ثنا أبو خليدٍ عتبة بى حمّادٍ الدِّ مشقىّ عن ابن ثوبان عن عطاء بن قرّة عن عبد الله بى ضمرة السّلولىّ قال حدّثناابو هر ير ة قال سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم وهويقول" الدُّ نُيَامَلعو نَةٌ مَلعونٌ ما فِيها إلاَّذِكرُاللهِ تعالى وَمَاوالاَهُ وعالما او متعلما

Artinya : Mewartakan kepada kami Ali bin Maimun ar-Raqqiy. Mewartakan kepeda kami Abu Kholid, Utbah bin Hammad ad-Dimasqiy dari Ibnu tasuban, dari Atha' bin Qurroh, dari Abdulloh bin Dhamrah as-Saluly, dia berkata mewartakan kepada kami Abu Hurairah, dia berkata, aku mendengar Rasululullah bersabda,"Dunia ini terkutuk, dan terkutuk pula segala yang ada di dalamnya kecuali dzikir kepada Allah dan taat kepada-Nya. Yang mempunyai ilmu pengetahuan atau orang mencari ilmu pengetahuan.

B. Skema Pohon Sanad

النبى ص

مأبو هريرة

عبدالله بن ضمرة السّلولى

عطاءبن قره

إبن ثو بان

أبو خليد , عتبه بن حمّا د الدّمشقى

على بن ميمو ن الرّ قّى

ابن ماجه

C. BIOGRAFI PERAWI

1. Abu Hurairah

Nama : Abdurrohman bin Sokhro

Lahir : 21 SH (Sebelum Hijriyah) masuk Islam pada tahun ke 7 H

Wafat : Madinah 57 H/635 M.

Guru : Nabi, Abu Bakar, Umar bin Khattab

Murid :Abdullah bin Dhamrah, Muhammadin Sirin Urwah bin Zubair.

Tingkatan : Sahabat

Kualitas perawi: Tsiqqoh

2. Abdullah bin Dhamrah As-Saluliy

Nama : Abdurrohman bin Dhamarah

Nasab : As-Saluly

Guru : Abi Darda', Abu Hurairah dan Ka'ab Al-Akhbar.

Murid : Atha' bin Qurroh As-Saluly, Tsabit bin Tsauban,

Abdurrahman bin Tsabit, Mujahid dan Abu Al Jabir.

Tingkatan : Al-Wusto min Tabi’in

Kualitas perawi: Tsiqqoh.

3. Atha’ bin Qurroh

Nama : Atha’ bin Qurroh as-Saluliy

Nasab : Assaluliy ad-Dimasqi

Wafat : 132 H.

Guru : Abdullah bin Dhamrah as-Saluliy dan Al-Juhri

Murid : Abdurrohman bin Tsabit bin Tsauban, Al-‘Auja’I dan

Abdurrahman bin Yazid bin Jabir

Kualitas perawi: Tsiqqoh.

4. Ibnu Tsauban

Nama : Abdurrahman bin Tsabit bin Tsauban

Wafat : Baghdad tahun 165 H

Guru : Tsabit bin Tsauban, Atha’ bin Qurroh danUmair bin Hana’i

Murid : Utbah bin Hammad bin khulaid, Usman bin Sa’id bin Dinar

Dan Al-Walid bin muslim.

Wafat : Baghdad 165 H

Kualitas perawi: Tsiqqoh

5. Abu Kholid Utbah bin Hammad

Nama :Utbah bin Hammad bin Khulaid

Nasab : al-Hakami ad-Dimasqiy

Guru : Abdurrohman bin Tsabit bin Tsauban

Murid : Aly bin Maimun al-Ator ar-Riqqiy, Ayub bin Muhammad bin

Al-Wazni dan Sulaiman bin Abdurrahman ad-Dimasqiy.

Kualitas perawi: Tsiqqoh.

6. Aly bin Maimun Ar-Riqqiy

Nama : Aly bin Maimun

Nasab : ar-Riqqiy

Wafat : 246 H

Guru : Ishak bin Ibrahim, Kholid bin Khiyan, dan

Utbah bin Hammad bin Khulaid

Murid : An-Nasa’I, Ibnu Maajah, Abu Jar’ah, Abu Hatim, dan

Muhammad bin Abdul Malik

Kualitas perawi: Tsiqqoh

7. Ibnu Maajah

Nama : Abu Abdullah Muhammad binYazid bin Maajah ar-Rabi’al-

Qazwiniy

Lahir : 209 H

Wafat : 273 H

Guru : Muhammad bin Abdullah bin Numair, dan

Aly bin Maimun ar-Raqqiy

Murid : Abu Tayyib al-Baghdadi dan Ahmad bin Ibrahim

Dilihat dari biografi diatas, setiap perawi memiliki kualitas tsiqqoh dan sanadnya sambung antara perawi satu dangan perawi yang lain, dapat disimpulkan bahwai hadis ini adalah hadis sokhih.

D. Kandungan Hadis

Kita ketahui bahwa agama islam adalah agama yang mencakup segala segi kehidupan manusia, baik kehidupan di dunia maupun di akhirat. Dalam memahami islam kita sudah diberikan dua pedoman yang amat kuat berupa Al-Qur’an dan Al-Hadis, seperti yang kita pelajari ini, agar kita memperoleh kebahagiaan dunia dan akhirat. Kehidupan di dunia ini ikut ambil peran serta dalam kehidupan di akhirat kelak, oleh karena itu dunia merupakan ladang bagi akhirat, untuk itu agar memperoleh hasil yang baik maka diperlukan amal amal yang baik, misalnya dzikir kepada Allah dan selalu ingat kepada NYA dalam kondisi apaun dan dimanapun kita berada, agar terlepas dari kutukan NYA.

Untuk mempelajari, memahami serta mengamalkan dua pedoman umat islam tersebut maka diperlukan ilmu pengetahuan yang ada kaitannya dengan hal tersebut. Bukan hanya untuk memahami pedoman umat islam saja,akan tetapi dengan ilmu seseorang dapat membadakan mana yang baik dan mana yang buruk, dengan memiliki ilmu pengetahuan seseorang akan terlepas dari kebodohan,sebab kebodohan merupakan musuh umat islam dan harus di perangi, yang mana sama halnya seperti orang kafir yang memusuhi umat islam, dan masih banyak yang lainnya.

Apa jadinya jika seorang umat islam khususnya, jika tidak tholabul ilmi dan memiliki ilmu pengetahuan,? Mungkin akan sama dengan hewan, dalam artian prilakunya. sebab hewan tidak mempunyai akal, sedangkan manusia mempunyai akal, dengan akal tersebutlah manusia bisa berfikir.

E. Hadis Pendukung

عن أبر الدّ رداء ر ضى الله عنه قال : سمعت رسو ل الله صلى الله عليه وسلم يقول : مَنْ سَلَكَ طَرِيقًايَبْتَغِي بِهِ عَلَيمًا سَهَّلَ اللهُ لَهُ طَرِ يْقًاالى الْجَنَّةِ . وَاِنَّ الْمَلاَ ئِكَةَ أَجْنِحَتَهَالِطَالِبِ الْعِلْمِ رِضً بِمَا صنَعَ , وَاِنَّ الْعَالِمَ لَيَسْتَغْفِرُ لَهُ مَنْ فِي السَّمَوَ وَمَنْ فِى اْلاَرْضِ خَتَّ الْحِيْتَا نُ فِى الْمَاءِ . وَفَضْلُ الْعَالَمِ عَلَى الْعَابِدِ كَفَضْلِ الْقَمَرِ عَلَى سَا ئِرِ الْكَوَاكِبِ وَ إِنَّ الْعَلَمَاءَ وَرَثَةُ اْلأَنْبِيَاءِ , وَإِنَّ اْلاَنْبِيَاءَ لَمْ يَوَ رِّ ثُوْا دِيْنَارًا ZZZZZZZZZZZZ وَلاَدِرْهَمًا وَإِنَّمَاوَرَّثُوْ الْعِلْمَ , فَمَنْ اَخَذَ هُ أَخَذَ بِخَظٍّ وَافِرٍ

Artinya:

Dari Abu Hurairah ra. ia berkata: "Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda: "Barang siapa yang melalui satu jalan untuk menuntut ilmu, Allah akan memudahkan baginya jalan ke surga. Sesungguhnya para malaikat selalu meletakkan sayapnya menaungi para pelajar karena senang dengan perbuatan mereka. Bahwa orang alim itu dimintakan ampun oleh penduduk di langit dan di bumi sehingga ikan-ikan di dalam air. Kelebihan orang alim atas orang yang suka beribadah seperti kelebihan cahaya bulan atas seluruh bintang. Seseungguhnya para ulama itu pewaris para nabi, dan para nabi itu tidak mewariskan dinar dan dirham, hanya mereka mewariskan ilmu maka barang siapa yang telah mendapatkannya berarti telah mengambil bagiannya yang banyak. (Diriwayatkan oleh Abu Daud dan Tirmidzi)

Dalam hadis diatas Rasulullah menerangkan bahwa menuntut ilmum merupakan perbuatan yang mulia.Untuk menghormati dan menjaga pekerjaan yang mulia tersebut, para malaikatmeletakkan sayapnya untuk menaungi mereka, agar supaya maksud dan tujuannya tercapai.Begitu juga semua penghuni yang ada di langit dan di bumi, hingga ikan-ikan yang ada dalam air ikut serta untuk mendo’akannya.